zmedia

“Peluk yang Tak Pernah Lelah”


Di tengah hutan sunyi, di balik pepohonan tinggi dan kabut yang menggantung setiap pagi,

hidup seorang ibu bernama Sari bersama anak-anaknya yang masih kecil —

enam jiwa mungil yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan.


Rumahnya bukan dari bata, tapi dari papan kayu tua yang mulai lapuk.

Atapnya bocor bila hujan turun,

dan angin malam sering menyelinap masuk, menggigilkan tubuh kecil yang tidur berdesakan di lantai bambu.

Namun di tengah segala kekurangan itu, ada hangat yang tak bisa dibeli —

hangat dari peluk seorang ibu yang tak pernah menyerah.


Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya terbit,

Sari sudah berjalan jauh ke hutan, membawa parang dan keranjang rotan.

Tangannya kasar, kakinya penuh luka,

tapi bibirnya selalu berdoa pelan,


“Ya Tuhan, cukupkanlah hari ini untuk anak-anakku makan.”


Kadang nasi hanya sebutir dua,

kadang lauk hanya garam dan air rebusan daun.

Namun setiap kali anak-anaknya berkata, “Bu, aku lapar,”

ia tersenyum lembut sambil berkata,


“Sabar, Nak. Ibu masih punya cinta — dan cinta tak pernah habis dimakan waktu.”


Saat malam datang, langit di atas hutan gelap tanpa lampu.

Suara serangga menggantikan televisi,

dan cerita ibu menjadi pengantar tidur bagi mereka yang bermimpi sederhana:

ingin sekolah, ingin sepatu, ingin tahu rasanya hidup di kota.

Sari hanya diam, menatap wajah mereka satu per satu,

dan menahan air mata yang hampir jatuh.


Ia tahu, hidupnya tak mudah.

Ia tahu, dunia sering tak adil bagi yang miskin dan sendirian.

Namun ia juga tahu,

bahwa cinta seorang ibu adalah keajaiban paling keras kepala di dunia.


Hari demi hari, ia menua —

punggungnya semakin bungkuk, tapi hatinya tetap tegak.

Setiap luka, setiap keringat,

menjadi doa yang diam-diam naik ke langit,

memohon agar anak-anaknya kelak tak merasakan perih yang sama.


Dan ketika suatu pagi, anak sulungnya pulang dengan membawa kabar,

bahwa ia diterima bekerja di kota,

Sari hanya menangis pelan,

bukan karena sedih, tapi karena akhirnya ada satu doa yang dijawab.


Ia memeluk anak itu lama,

dan berbisik dengan suara bergetar,


“Pergilah, Nak… jangan lihat ke belakang.

Tapi ingatlah, setiap langkahmu lahir dari tanah dan air mata ibumu.”


🌿

Kini, di tengah hutan yang tetap sunyi,

ada satu rumah kecil yang mungkin tak mewah,

tapi di sana pernah hidup seorang ibu besar — yang mengalahkan dunia dengan cinta.

Posting Komentar untuk "“Peluk yang Tak Pernah Lelah”"