Di sebuah desa kecil, di antara kabut pagi dan suara ayam berkokok, hiduplah seorang guru muda bernama Arif.
Ia bukan siapa-siapa — hanya seorang guru honorer yang setiap bulan gajinya sering kalah besar dari ongkos ke sekolah.
Namun, di matanya, ada cahaya kecil — cahaya cinta terhadap ilmu, terhadap murid-murid yang ia ajari dengan sepenuh hati.
Setiap pagi, Arif berjalan kaki, menembus embun dan lumpur jalanan.
Ia tahu, tak ada janji masa depan dari status “honorer”.
Tapi di dalam dirinya, ia masih percaya: “Mengajar bukan tentang gaji, melainkan tentang warisan yang tak kasat mata — ilmu dan ketulusan.”
Namun hidup tak selalu berpihak pada yang tulus.
Tahun demi tahun berlalu, dan Arif masih berdiri di tempat yang sama,
sementara perut orang tua menua, dan dompetnya makin tipis.
Di suatu malam yang sunyi, di bawah lampu redup kosannya,
ia menatap selembar surat penundaan gaji, dan hatinya remuk.
Ia tahu… sudah waktunya memilih jalan baru.
Dengan berat hati, ia meninggalkan papan tulis dan kapur putih yang selama ini jadi saksi perjuangannya.
Bukan karena menyerah, tapi karena ingin berjuang dengan cara lain.
Ia memulai wirausaha kecil — menjual hasil kebun, membuka lapak,
tanpa modal besar, tanpa relasi kuat, hanya dengan niat dan doa ibu.
Hari-harinya kini bukan lagi di depan kelas,
melainkan di bawah terik matahari, menimbang hasil panen, menawar dengan tengkulak,
terkadang rugi, kadang ditipu, seringkali diremehkan.
Namun setiap malam, ketika kelelahan memeluk tubuhnya,
ia tersenyum kecil dan berkata pada dirinya sendiri,
"Jalan benar tak selalu mudah, tapi selalu membawa hati yang tenang."
Perlahan, usahanya tumbuh.
Bukan karena keberuntungan, tapi karena kesabaran dan kejujuran.
Ia menolak jalan pintas, menolak tipu daya,
dan membangun dengan peluh yang jujur — satu demi satu, langkah demi langkah.
Kini, Arif bukan lagi sekadar guru atau pedagang,
ia adalah pendidik kehidupan, yang mengajar lewat keteladanan.
Ia belajar bahwa hidup bukan tentang di mana kita bekerja,
tapi bagaimana kita berjuang dengan cara yang benar.
Dan setiap kali melihat anak-anak sekolah lewat di depan lapaknya,
ia tersenyum dan berbisik pelan:
“Mungkin aku tak lagi di kelas, tapi aku masih mengajar —
lewat setiap jujur yang kutanam, lewat setiap sabar yang kutumbuhkan.”
🌾
Karena guru sejati tak pernah berhenti mengajar —
ia hanya berganti panggung, dari papan tulis ke panggung kehidupan.

Posting Komentar untuk "“Langkah di Jalan yang Tak Mudah”"