🌧️ Langit Tanpa Sekolah
Oleh: Hendra Yuda
Fajar di Ujung Desa
Desa itu bernama Pajang Hulu, sebuah tempat kecil di pinggiran kota yang tak banyak dikenal orang.
Di sanalah hidup seorang anak bernama Rafi, empat belas tahun, tubuh kurus, kulit legam, dan mata yang selalu menatap jauh seakan menyimpan ribuan beban yang tak semestinya dipikul anak seusianya.
Setiap pagi, sebelum matahari muncul, Rafi sudah berdiri di jalan tanah yang becek, menenteng karung kosong dan cangkul tua.
Udara dingin membungkus tubuhnya, tapi ia tak pernah mengeluh.
Di rumah kecil yang hampir roboh di ujung kebun, ibunya terbaring sakit, dan dua kakak serta seorang adiknya duduk diam, menatap dinding kosong—jiwa mereka tak seutuhnya ada di dunia yang sama.
“Hati-hati, Nak…” suara ibunya lirih setiap kali Rafi pamit.
“Iya, Bu…” jawabnya pelan, sambil memaksakan senyum yang hanya menutupi getir hidup.
Anak Tanpa Sekolah
Rafi tak pernah mengenal huruf dengan baik.
Baginya, buku hanyalah benda mewah yang sering dilihat di rumah tetangga.
Ia bekerja di kebun, memungut buah yang jatuh, atau membantu warga mencangkul sawah. Kadang, bila beruntung, ia diberi sepiring nasi dan sepotong ikan asin.
Namun di sela-sela kerja kerasnya, Rafi sering memandangi anak-anak lain yang berangkat ke sekolah, memakai seragam putih biru, membawa tas di punggung.
Ia berhenti sejenak, menatap mereka dari kejauhan.
“Bagaimana rasanya belajar, ya?” gumamnya.
“Apakah rasanya seperti bisa bermimpi?”
Lumpur dan Luka
Suatu siang, hujan turun deras di kebun. Rafi tetap bekerja, menggali tanah sambil menggigil. Lumpur menempel di wajahnya, darah bercampur air hujan di tangannya yang melepuh.
Tapi setiap tetes peluhnya adalah doa.
Setiap luka adalah tanda cinta.
“Untuk Ibu… untuk mereka…”
Kata itu selalu terucap dalam hati, berulang-ulang seperti mantra yang menahan dirinya dari putus asa.
Langit yang Diam
Malam itu, angin bertiup kencang. Atap rumah bocor, hujan menetes tepat di wajah ibunya yang sedang tidur.
Rafi menadah air dengan ember, memindahkannya satu per satu.
Setelah semuanya tenang, ia duduk di depan rumah, menatap langit hitam.
“Kenapa hidupku seperti ini?” bisiknya.
Tak ada jawaban. Hanya suara jangkrik dan bau tanah basah.
Namun di tengah gelap itu, Rafi merasa seakan Tuhan sedang mendengarkan diam-diam—meski tanpa memberi suara.
Cahaya Kecil di Tengah Gelap
Beberapa bulan kemudian, seorang guru muda dari kota datang ke desa itu untuk mengajar sukarela. Namanya Pak Andi.
Ia melihat Rafi di kebun dan bertanya,
“Kenapa kamu nggak sekolah, Nak?”
Rafi menunduk, menggenggam tanah.
“Sekolah butuh baju, butuh buku, butuh waktu. Aku nggak punya itu semua, Pak. Aku cuma punya tenaga.”
Pak Andi terdiam lama.
Sejak hari itu, setiap sore ia datang membawa kertas bekas dan pensil kecil.
Ia mengajari Rafi menulis di bawah pohon kelapa, kadang dengan cahaya senja yang redup.
Huruf demi huruf ia kenalkan. Dan untuk pertama kalinya, Rafi merasa ia sedang hidup, bukan hanya bertahan.
Surat untuk Langit
Suatu malam, Rafi menulis surat pada selembar kertas robek:
“Tuhan, kalau aku boleh minta satu hal… aku nggak mau kaya.
Aku cuma mau ibu bisa makan tanpa sakit, dan aku bisa sekolah seperti anak lain.
Tapi kalau itu terlalu sulit, biarlah aku tetap begini, asal mereka bisa bahagia.”
Surat itu ia lipat dan sembunyikan di bawah bantal ibunya.
Ia tak tahu, doa itu kelak menjadi kenangan terakhir.
Hujan di Bulan Juli
Musim hujan datang lebih cepat tahun itu.
Rafi bekerja keras mengangkut pasir untuk menambah uang beli obat ibu.
Tubuhnya mulai lemah, batuk berdarah, tapi ia menutupi semuanya.
“Ibu jangan khawatir. Rafi kuat kok…”
Padahal setiap malam, ia menggigil sendirian di dapur, menggigit kain agar tak terdengar suara sakitnya.
Malam Tanpa Bintang
Suatu malam, ibunya semakin parah.
Rafi duduk di samping ranjang, menggenggam tangan sang ibu yang dingin.
“Rafi… kalau nanti Ibu nggak ada, kamu jangan berhenti berdoa ya…”
Air mata Rafi menetes. “Ibu jangan ngomong gitu…”
“Ibu tahu kamu kuat… tapi jangan biarkan hatimu jadi batu…”
Malam itu, hujan tak berhenti.
Dan saat fajar menyapa, ibu Rafi telah pergi dalam diam—dengan senyum tipis di bibirnya.
Dunia yang Kosong
Sejak kepergian ibunya, Rafi menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.
Ia tetap bekerja, tetap memberi makan kakak dan adiknya, tapi matanya kosong.
Di setiap tempat yang ia lewati, seolah ada bayangan ibunya memanggil.
Kadang ia berhenti di sungai, menatap air, dan bertanya dalam hati:
“Apakah hidupku ini hanya untuk menunggu mati?”
Hujan Terakhir
Suatu pagi, tubuh Rafi jatuh di tepi kebun. Ia kelelahan, terlalu lama menahan lapar dan sakit.
Pak Andi menemukannya, menggendongnya ke rumah kecil itu.
Namun napas Rafi semakin berat.
Di tangannya masih tergenggam kertas lusuh—surat untuk Tuhan yang dulu ia tulis.
Sebelum matanya tertutup, ia berbisik,
“Pak… bilang sama Tuhan… aku udah capek, tapi aku bahagia. Aku udah jaga mereka sebisaku…”
Lalu sunyi.
Dan langit menangis deras sore itu.
Epilog – Anak yang Tak Pernah Menyerah
Bertahun-tahun setelah itu, di desa Pajang Hulu, orang-orang masih mengenang seorang anak bernama Rafi.
Kuburnya sederhana, di bawah pohon kelapa tempat ia dulu belajar menulis.
Pak Andi menanam batu kecil di atasnya dan menulis:
“Di sini beristirahat anak tanpa sekolah,
tapi dengan hati yang mengajari dunia arti cinta dan pengorbanan.”
Dan setiap kali hujan turun, seakan seluruh desa tahu—
langit sedang membaca ulang surat Rafi yang sederhana:
tentang kasih, tentang tanggung jawab, dan tentang cinta yang tak sempat tumbuh, tapi tak pernah mati.

Posting Komentar untuk "🌧️ Langit Tanpa Sekolah"